Selamat Datang Sahabat

Ubai Dresani

Senin, 08 Agustus 2011

Sebuah Epilog hidup

(sebuah fiksi)

imagine
Tak seperti biasanya, pagi ini begitu kering atau karena bulan agustus yang dalam
ilmu iklim disebut sebagai bulan kemarau. Aku rasa bukan karena itu, bukan musim kemarau
bukan pula karana bulan agustus. yang kering adalah hatiku. Iya ini rasa psikologis seorang anak
yang tangah menginjak dewasa. Ha...? dewasa.... pahit sekali aku menyebut dewasa. Dewasa memang pilihan
dan tua itu pasti. masih selalu menyusahkan orang tua dibilang dewasa....????
dewasa karena faktor usia?? aku rasa bukan

masih terasa kering, seolah semakin kering, lebih karing bahkan dari gurun sahara. hmmm.... apakah benar?
lebih kering dari gurun sahara? mudah-mudahan tidak. Aku juga belum tahu seberapa keringnya gurun sahara sana
tapi yang jelas masih terasa kering disini.
Pagi tadi, ah.... haruskah aku bercerita???
baiklah.
"Pak tandure wes koyo ngopo?"( pak tanaman padinya seperti apa?"). kata ibu denga logat jawa
" ya alhamdulillah.... wes mulai kuning, tapi perlu di jogo seko manuk emprit ben ono turahe"
(alhamdulillah.... udah mulai kuning, tapi perlu di jaga dari burung pipit agara ada sisanya). jawab bapak
" mugo-mugo bisa panen pak...."
"amin..."

miris memang, disini meraka berdua yang menjadi pahlawan bagiku. ibuku yang kakinya masih
sakit gara-gara terkilir kemaren masih tetap pergi ke pasar berdagang, kaki yang masih bengkak itu,
masih tetap nekat berlarian mengajar barang yang akan di jual kembali. serasa ingin nangis
tapi apakah cukup kalau hanya menangis, apakah akan selesai masalah hanya dengan menangis,
mau marah? mau menyalahkan tuhan dengan ketidakadilan ini?
heiii... astaghfirrullah..... ampuni hambamu ya Allah.
Bapak, sekarang belau sudah beda dari yang dulu. kerutan wajahnya sudah mulai tampak jelas
rambut di kepalanya didominasi warna putih. hmmm beliau masih tampak tegar dengan kondisi seperti ini
dibalik itu semua banyak rahasia yang belum Ia ceritakan.. ah masih tetap sama sifat tenangnya.
yang aku suka adalah masih sering bercerita mengenai pokok-pokok agama
walaupun aku sudah berulang kali mendengar cerita yang sama setiap aku pulang, bahkan sebelum kuliah dulu.

"zan...  kapan kamu lulus.....????? serasa tersambar petir disiang bolong...
"ehmmm pangestue mawaon cepet (doanya saja semoga cepat)
"mae wes ra kuwat dris..... mae wes tuwo" ( ibu udah gak kuwat dris... ibu udah tua)

ada gerimis disini, jauh dilubuk hati...
"pae ya wes tuwo ndang di rampungke kuliahe.... terus adimu kuliahke..."
(bapak juga udah tua cepat di selesaikan kuliahmu... terus kuliahke adimu.."

serasa ada badai, bukan gerimis lagi. mau banjir kah???
menangis tak menyelasiakan masalah, marah untuk apa????

"inggih bu, pak... minta doanya mudah-mudah cepet lulus dan cepat bisa membantu.....
besok saya berangkat....
"hmmm kok besok, ibu belum punya uang saku...." kata ibu dengan menangis
" aku udah punya bu... ya lumayan lah.... doanya saja....

(to be continued)

Rabu, 06 Juli 2011

Akulah Mahasiswa : Monolog

Akulah mahasiswa

Lalu mengapa
Apa ada yang istimewa
Bukankah mahasiswa adalah pengubah dunia
Pengubah masa depan
Tapi
Perlu kah aku bangga dengan menjadi mahasiswa
Apa yang perlu dibanggakan
Bukankah ketika sarjana justru menambah jumlah pengangguran
Apa istimewanya
Banyak pengusaha sukses tanpa harus jadi mahasiswa
Bukan pula  bergelar sarjana
Hmmm…
Lalu untuk apa aku jadi mahasiswa
Untuk apa menghabiskan uang banyak
hanya ingin dihargai
Dihormati, disegani, dianggap dewasa, dianggap berpengaetahuan
Hanya karena jadi mahasiswa
Huftt…
Sekarang aku mahasiswa
Banyak waktu yang aku sia-siakan
Banyak uang Negara yang ku hambur-hamburkan
Lebih parah malah dari pejabat korup sekalipun



Hmm…
Inikah sarjana
Yang kata orang diluar sana adalah kalanan terdidik
Orang-orang akdemik
Yang berbicara berdasarkan fakta dan logika
Yang diharapakan untuk membangun bangsa
Yang diharapkan para orang tua untuk mengankat derajatnya
Hmmm…
Akulah mahasiswa
Bukan untuk dianggap kaum intelek
Tapi aku hanya ingin mencari
Mencari yang belum aku ketahui
Menemukan yang aku cari
Mengupas segala yang masih terbungkus rapi

Akulah mahasiswa
Bukan ingin untuk dihargai
Bukan ingin untuk dihormati
Bukan untuk ingin untuk disanjung
Tapi aku hanya ingin meningkatkan kapasitas diri
Menggali informasi yang belum aku ketahui.
Akulah mahasiswa…